WTI Berayun antara US$86 dan US$91 saat Pembicaraan Gencatan Senjata AS-Iran Mengimbangi Serangan di Timur Tengah

by VT Markets
/
May 29, 2026

Minyak mentah WTI mengalami pergerakan tajam naik-turun pada Kamis, karena perkembangan AS-Iran mengubah sentimen. Kontrak hampir tidak berubah di sekitar US$88 per barel saat penulisan, setelah sempat naik ke puncak harian US$91,27, lalu turun ketika pasar menimbang laporan konflik baru versus pembicaraan diplomasi.

Harga semula naik setelah laporan serangan di Timur Tengah, termasuk serangan AS ke lokasi militer Iran dan klaim Iran menargetkan pangkalan udara AS di wilayah Teluk. Pergerakan itu berbalik setelah Axios melaporkan adanya kesepakatan awal AS-Iran, yang menekan WTI ke level terendah harian dekat US$86,28. Laporan tersebut menyebut nota kesepahaman (dokumen kesepakatan awal) selama 60 hari untuk memperpanjang gencatan senjata (kesepakatan penghentian tembak-menembak sementara) yang berlaku saat ini, menunggu persetujuan akhir dari Presiden Donald Trump.

Sejumlah isu utama disebut masih belum terselesaikan, termasuk program nuklir Iran dan kendali atas Selat Hormuz. Secara terpisah, Kementerian Keuangan AS mengumumkan sanksi baru terkait Iran terhadap Persian Gulf Strait Authority yang baru dibentuk, sementara Menteri Keuangan Scott Bessent mengatakan AS tidak akan menerima sistem pungutan (penarikan biaya seperti “tarif lewat”) di Hormuz dan memperingatkan mitra yang ikut dalam pungutan tersebut akan dikenai hukuman.

Volatilitas dan Rentang Perdagangan yang Dipengaruhi Berita

Pasar jelas terjepit antara judul berita konflik dan kabar gencatan senjata. Kami melihat WTI diperdagangkan dalam rentang yang dipicu berita, kira-kira antara US$86 hingga US$91 per barel. Kepekaan ekstrem ini berarti volatilitas tinggi (tingkat naik-turun harga yang besar) akan menjadi fokus utama dalam beberapa pekan ke depan.

Karena potensi pergerakan harga tajam akibat kabar apa pun dari Washington atau Teheran, kami menilai strategi opsi untuk mengelola risiko. Data terbaru menunjukkan volatilitas tersirat 30 hari pada opsi WTI (perkiraan volatilitas yang tercermin dari harga opsi) melonjak di atas 45%, level yang belum terlihat sejak ketegangan kawasan awal tahun ini. Kondisi ini cocok untuk strategi yang diuntungkan dari pergerakan harga besar, tanpa peduli arah.

Kesamaan Historis, Faktor Dasar, dan Strategi Transaksi

Situasi ini mengingatkan pada musim panas 2019 ketika serangan terhadap kapal tanker dekat Selat Hormuz memicu lonjakan harga tajam namun singkat. Saat itu, harga naik karena ketakutan, tetapi cepat turun ketika arus pasokan minyak mentah tidak terganggu besar. Pasar perlu siap pada pola serupa, ketika rumor dan kondisi nyata bisa menarik harga ke arah berlawanan.

Penting diingat, faktor dasar pasar yang ketat (pasokan relatif terbatas dibanding permintaan) menahan harga agar tidak jatuh lebih dalam setelah kabar gencatan senjata. Laporan terbaru EIA (Badan Informasi Energi AS) menunjukkan persediaan minyak mentah global 5% di bawah rata-rata lima tahun, sehingga menjadi penopang harga. Gangguan pasokan nyata dari Selat Hormuz—jalur yang dilalui sekitar 20% minyak dunia—akan berdampak sangat besar.

see more

Back To Top
server

Hai 👋

Bagaimana saya boleh membantu?

Segera berbual dengan pasukan kami

Chat Langsung

Mulakan perbualan secara langsung melalui...

  • Telegram
    hold Ditangguh
  • Akan datang...

Hai 👋

Bagaimana saya boleh membantu?

telegram

Imbas kod QR dengan telefon pintar anda untuk mula berbual dengan kami, atau klik di sini.

Tidak ada aplikasi Telegram atau versi Desktop terpasang? Gunakan Web Telegram sebaliknya.

QR code