Dolar AS menguat dan kenaikan imbal hasil (yield, tingkat keuntungan obligasi) AS mendorong USD/JPY kembali di atas 159,00 semalam, dengan pasangan ini bergerak menuju 160,00. Kenaikan yield obligasi pemerintah AS (US Treasury) dan aksi jual obligasi global yang makin luas ikut menopang pergerakan tersebut.
Pasar mulai memperhitungkan peluang lebih besar untuk beberapa kali kenaikan suku bunga Federal Reserve (bank sentral AS), yang dikaitkan dengan guncangan harga energi. Ini menambah tekanan naik pada yield AS dan Dolar.
Kekhawatiran Fiskal Jepang Membebani Yen
Di Jepang, laporan menyebut Perdana Menteri Takaichi meminta Kementerian Keuangan menyiapkan anggaran tambahan yang kemungkinan melibatkan penerbitan utang baru. Ini menambah pelemahan pada Obligasi Pemerintah Jepang (JGB, surat utang negara Jepang) dan yen.
Belanja yang direncanakan diperkirakan untuk membiayai bantuan darurat, bukan stimulus ekonomi, menurut pejabat pemerintah yang tidak disebutkan namanya yang dikutip Reuters. Rencana penambahan utang memperkuat pelemahan JGB dan meningkatkan risiko penurunan yen saat USD/JPY mendekati 160,00.
Tulisan tersebut mencatat pemerintah bisa menghadapi tekanan lebih besar untuk menopang yen jika mata uang melemah lebih jauh.
Dolar AS kembali menunjukkan kekuatan pada awal pekan, mendorong USD/JPY kembali di atas level 162,00. Pola ini mengingatkan dinamika pada 2025 ketika kenaikan yield AS dan guncangan harga energi terus menekan yen. Faktor fundamental kembali terlihat mendukung pelemahan yen lebih lanjut.
Volatilitas Opsi dan Risiko Intervensi
Pelaku pasar merespons lonjakan terbaru harga minyak, dengan Brent (patokan harga minyak global) kini diperdagangkan di atas US$95 per barel, dengan menilai peluang pemangkasan suku bunga The Fed tahun ini lebih kecil. Aksi jual obligasi global mendorong yield US Treasury tenor 10 tahun kembali ke 4,5%, sehingga dolar makin menarik. Perbedaan ekspektasi kebijakan moneter (arah suku bunga bank sentral) antara AS dan Jepang tetap menjadi pendorong utama transaksi ini.
Pada saat yang sama, yen terbebani faktor domestik, termasuk laporan bahwa pemerintah mungkin perlu menyusun anggaran tambahan untuk membiayai langkah bantuan baru. Dengan rasio utang terhadap PDB (debt-to-GDP, perbandingan total utang negara terhadap ukuran ekonomi) Jepang kini melampaui 265%, anggaran baru hampir pasti memerlukan penerbitan utang baru. Ini mendorong aksi jual JGB dan menambah pelemahan yen.
Kondisi ini menjaga tekanan agar Jepang kembali melakukan intervensi (aksi pemerintah/otoritas menjual atau membeli mata uang di pasar untuk memengaruhi nilai tukar) untuk mendukung mata uangnya, seperti intervensi skala besar pada 2024 dan 2025. Saat USD/JPY mendekati level 165,00, risiko langkah mendadak dan tajam dari Kementerian Keuangan meningkat. Bagi pedagang derivatif (instrumen turunan seperti opsi dan kontrak berjangka), membeli opsi call USD/JPY (hak untuk membeli pada harga tertentu) untuk mendapat potensi kenaikan bisa lebih aman daripada memegang posisi spot (transaksi langsung di pasar), karena batas risiko penurunan lebih jelas.
Kombinasi pandangan The Fed yang hawkish (cenderung mendukung suku bunga lebih tinggi) dan ancaman intervensi yang terus ada mendorong implied volatility (perkiraan volatilitas yang tercermin dari harga opsi) pada opsi yen meningkat. Ini membuat opsi menjadi lebih mahal, tetapi juga membuka peluang strategi seperti call spread (membeli call pada strike tertentu dan menjual call pada strike lebih tinggi untuk menekan biaya/premi). Strategi ini menargetkan kenaikan USD/JPY yang spesifik sambil membatasi premi yang dibayar, sehingga lebih hati-hati dalam kondisi tidak pasti.