Tingkat pengangguran ILO Inggris naik ke 5,0% dalam tiga bulan hingga Maret, dari 4,9% pada periode sebelumnya, menurut Office for National Statistics (ONS), lembaga statistik resmi Inggris. Angka ini di atas perkiraan pasar 4,9%.
Jumlah orang yang mengajukan klaim tunjangan pengangguran (claimant count, yaitu penerima manfaat karena menganggur) naik 26,5 ribu pada April. Ini dibandingkan kenaikan Maret yang direvisi menjadi 4,9 ribu, dan lebih rendah dari perkiraan kenaikan 27,3 ribu.
Key Labour Market Details
Perubahan jumlah orang yang bekerja (Employment Change, yaitu selisih jumlah pekerja dibanding periode sebelumnya) sebesar 148 ribu pada Maret, setelah 25 ribu pada Februari.
Rata-rata upah tanpa bonus (Average Earnings excluding bonuses, ukuran pertumbuhan upah rutin) naik 3,4% secara tahunan (year-on-year/yoy, dibanding tahun sebelumnya) dalam tiga bulan hingga Maret, melambat dari 3,6% sebelumnya. Angka ini sesuai ekspektasi 3,4%.
Rata-rata upah termasuk bonus (Average Earnings including bonuses, termasuk pembayaran variabel) naik 4,1% pada periode yang sama, setelah kuartal sebelumnya direvisi menjadi 3,9%. Ini di atas perkiraan 3,8%.
Setelah rilis data, GBP/USD turun 0,13% pada hari itu ke 1,3415. Pound sterling adalah mata uang resmi Inggris, dan mencakup 12% transaksi valuta asing (foreign exchange/FX, pasar tukar mata uang) global, dengan rata-rata transaksi US$630 miliar per hari pada 2022.
Market Implications And Trading Focus
Melihat data awal 2025, kondisi pasar tenaga kerja Inggris cenderung campuran. Tingkat pengangguran utama naik tak terduga ke 5,0% dan sempat menekan pound. Namun, laporan juga menunjukkan pertumbuhan upah yang kuat dan kenaikan ketenagakerjaan yang cukup baik, sehingga arah pasar menjadi tidak jelas.
Bank of England (bank sentral Inggris) berada dalam posisi sulit karena inflasi masih tinggi. Inflasi terbaru berdasarkan Consumer Price Index (CPI, indeks harga konsumen—ukuran perubahan harga barang dan jasa) berada di 2,8%, masih di atas target 2%. Bank sentral tidak mudah menurunkan suku bunga (interest rates, biaya pinjaman acuan) untuk membantu pasar kerja yang melemah tanpa risiko inflasi naik lagi. Kombinasi pertumbuhan melambat dan inflasi yang sulit turun biasanya memicu volatilitas pasar (volatility, besarnya naik-turun harga).