Kenaikan Imbal Hasil Obligasi AS dan Guncangan Harga Minyak Hantam Pasar Berkembang Asia, Indonesia dan Filipina Tertekan

by VT Markets
/
May 20, 2026

Aset Asia berkembang tertekan karena imbal hasil (yield) obligasi pemerintah AS (US Treasury) naik, dolar AS menguat, dan terjadi “kejutan minyak” (kenaikan harga minyak mendadak) yang menambah tekanan di Indonesia, Filipina, dan India. Pergerakan ini terkait arus keluar modal (capital outflows: dana investor asing keluar dari suatu negara), pelemahan mata uang, dan biaya pendanaan yang lebih mahal, sementara risiko inflasi naik bagi pasar obligasi.

Di Indonesia, rupiah (IDR) menyentuh level terlemah sepanjang sejarah, saham turun, dan obligasi tenor 10 tahun mendekati 6,76%. IDR turun 14% sejak Presiden Prabowo Subianto menjabat pada Oktober 2024, dan Moody’s serta Fitch menurunkan peringkat (downgrade: penurunan penilaian kemampuan bayar) obligasi Indonesia.

Indonesia Index And Policy Shock

MSCI mengeluarkan enam perusahaan Indonesia dari indeksnya dan menghapus 13 emiten dari indeks saham berkapitalisasi kecil (small-cap: perusahaan dengan nilai pasar relatif kecil). Perubahan ini menyusul kekhawatiran terkait perubahan arah kebijakan pemerintah.

Di Filipina, rencana lelang obligasi tenor 7 tahun dibatalkan setelah penawaran (bids: permintaan beli investor pada lelang) mengindikasikan yield hingga 8,125%. Total penawaran mencapai PHP 37 miliar untuk rencana penerbitan PHP 30 miliar, dan semua penawaran ditolak.

Di India, yield 10 tahun turun 3 bp (basis poin: 0,01%) ke 7,10% setelah naik 7 bp pada hari sebelumnya. Pemerintah menaikkan harga bahan bakar 3%, kenaikan pertama dalam empat tahun.

Menghadapi tekanan kuat dari dolar yang lebih kuat dan yield AS yang lebih tinggi, kami perlu menyiapkan posisi untuk perbedaan kinerja (divergence: pergerakan yang makin tidak searah) di pasar Asia berkembang. Kondisinya mirip tekanan akhir 2024 dan awal 2025, dipicu faktor yang sama. Fokusnya adalah transaksi yang menargetkan mata uang paling lemah, sambil tetap memperhatikan adanya kekuatan relatif di negara lain.

Trade Positioning And Relative Value

Rupiah Indonesia menjadi kandidat paling jelas untuk posisi jual (short: untung jika harga/mata uang turun), mengingat gabungan risiko politik, penurunan peringkat kredit, dan keluarnya emiten dari indeks MSCI. Sebagai gambaran, pelemahan rupiah yang menembus 16.200 per dolar pada April 2024 menunjukkan sentimen bisa berubah cepat, dan kondisi saat ini terlihat lebih berat. Posisi short IDR terhadap dolar dapat dibangun lewat non-deliverable forward/NDF (kontrak forward tanpa penyerahan fisik mata uang; selisihnya diselesaikan dengan pembayaran dalam mata uang tertentu), dengan ekspektasi rupiah masih melemah.

Gagalnya lelang obligasi Filipina memberi sinyal krisis pendanaan (funding crisis: pemerintah sulit mendapat pinjaman dengan biaya yang diterima pasar), karena pemerintah tidak bisa menerbitkan utang pada tingkat bunga yang diminta pasar. Ini mengarah pada kemungkinan suku bunga Filipina terdorong naik. Posisi dapat diambil melalui interest rate swap (swap suku bunga: kontrak tukar arus pembayaran bunga, misalnya bunga tetap ditukar dengan bunga mengambang) untuk mengambil manfaat dari kenaikan yield dalam beberapa bulan ke depan.

India, sebaliknya, menunjukkan tanda disiplin fiskal lewat kenaikan harga BBM, sehingga menjadi titik stabilitas relatif. Ini membuka strategi “pairs trade” (pasangan posisi: beli aset yang lebih kuat dan jual aset yang lebih lemah pada saat yang sama) dengan posisi beli rupee India (INR) dan bersamaan menjual rupiah Indonesia (IDR). Strategi ini menargetkan kelemahan spesifik Indonesia sekaligus melakukan lindung nilai (hedging: mengurangi risiko) terhadap pergerakan dolar AS secara umum.

Di sisi saham, penyesuaian bobot MSCI (rebalancing: perubahan komposisi/berat indeks) menjadi pemicu langsung untuk posisi jual saham Indonesia, kemungkinan melalui kontrak berjangka indeks (index futures: produk turunan yang mengikuti pergerakan indeks). Penghapusan perusahaan besar dapat memicu aksi jual paksa dari dana yang mengikuti indeks (index-tracking funds: reksa dana/ETF yang meniru indeks), sehingga menambah tekanan turun. Ini transaksi berbasis peristiwa (event-driven: bergantung pada kejadian tertentu) yang sejalan dengan gambaran makro yang negatif.

see more

Back To Top
server

Hai 👋

Bagaimana saya boleh membantu?

Segera berbual dengan pasukan kami

Chat Langsung

Mulakan perbualan secara langsung melalui...

  • Telegram
    hold Ditangguh
  • Akan datang...

Hai 👋

Bagaimana saya boleh membantu?

telegram

Imbas kod QR dengan telefon pintar anda untuk mula berbual dengan kami, atau klik di sini.

Tidak ada aplikasi Telegram atau versi Desktop terpasang? Gunakan Web Telegram sebaliknya.

QR code