Pasar obligasi global sedang mengalami aksi jual, dengan biaya pinjaman mendekati atau menembus laju pertumbuhan Produk Domestik Bruto (PDB) nominal. PDB nominal adalah pertumbuhan ekonomi yang masih memasukkan kenaikan harga (inflasi), bukan pertumbuhan “riil” setelah inflasi. Kondisi ini terjadi ketika blokade Selat Hormuz tetap menjadi faktor utama pasar, sementara cadangan persediaan minyak global (stok penyangga) terus menipis.
Inggris telah masuk ke “zona bahaya” ketika biaya pinjaman melampaui pertumbuhan PDB nominal. Imbal hasil (yield) gilt Inggris tenor 10 tahun berada di atas pertumbuhan PDB nominal kuartal I Inggris dan juga di atas rata-rata pertumbuhan nominal selama satu dekade terakhir. Yield adalah tingkat imbal hasil yang mencerminkan biaya pinjaman pemerintah; gilt adalah obligasi pemerintah Inggris.
Kredibilitas Fiskal Inggris Dan Tekanan Pada Sterling
Laporan tersebut mengaitkan pergerakan Pound (GBP) dengan yield gilt Inggris dan politik domestik. Disebutkan bahwa melemahnya kredibilitas fiskal Inggris—yakni keyakinan pasar bahwa pemerintah mampu mengelola anggaran, defisit, dan utang secara disiplin—serta meningkatnya ketidakpastian politik dapat menambah tekanan turun pada GBP.
Blokade Selat Hormuz tetap menjadi isu utama pasar. Selat Hormuz adalah jalur pelayaran penting bagi ekspor minyak, sehingga gangguan di sana langsung memengaruhi pasokan. Dengan persediaan minyak global menurun, minyak Brent—patokan harga minyak global—bertahan di atas US$115 per barel. Ini memicu kekhawatiran inflasi dan mempercepat aksi jual obligasi global. Situasi ini mendorong biaya pinjaman menuju zona bahaya saat biaya tersebut lebih tinggi daripada pertumbuhan ekonomi.
Inggris sudah berada di wilayah ini, setelah yield gilt 10 tahun menyentuh 5,2% pekan lalu, jauh di atas pertumbuhan PDB nominal kuartal I 2026 sebesar 3,8%. Selisih ini menandakan tekanan besar terhadap kemampuan ekonomi Inggris membayar bunga dan melunasi utangnya. Pada periode sebelumnya, dinamika serupa—namun lebih cepat—terjadi saat krisis LDI pada akhir 2022. LDI (liability-driven investment) adalah strategi investasi dana pensiun yang menyesuaikan portofolio untuk mencocokkan kewajiban pembayaran di masa depan; saat yield melonjak, strategi ini dapat memicu kebutuhan jaminan (margin/collateral) dan memaksa penjualan aset.
Level GBP/USD Dan Lindung Nilai Opsi
Bagi pelaku pasar derivatif, ini mengarah pada pelemahan Pound yang berlanjut. Derivatif adalah instrumen keuangan yang nilainya mengikuti aset acuan (misalnya kurs). Dengan pembahasan soal kemungkinan pemilu umum pada musim gugur yang menambah kekhawatiran atas kredibilitas fiskal Inggris, memegang posisi long GBP (bertaruh GBP menguat) dinilai berisiko. Disebutkan bahwa membeli opsi put GBP adalah strategi yang masuk akal untuk melindungi nilai (hedging) atau meraih keuntungan jika GBP melemah lagi terhadap dolar AS. Opsi put adalah kontrak yang memberi hak (bukan kewajiban) untuk menjual pada harga tertentu; hedging adalah upaya mengurangi risiko pergerakan harga yang merugikan.
Jika menilik masa stabil yang singkat pada 2025, terlihat masalah fiskal mendasar belum sepenuhnya ditangani. Tekanan saat ini membuka kembali masalah tersebut. Volatilitas tersirat (implied volatility) pada opsi GBP meningkat. Volatilitas tersirat adalah perkiraan pasar terhadap besarnya gejolak harga ke depan yang tercermin pada harga opsi. Namun biaya perlindungan dari penurunan (downside protection) masih dinilai layak.
Perhatian tertuju pada potensi GBP/USD menembus ke bawah level dukungan (support) kunci 1,2000 dalam waktu dekat. Support adalah area harga yang sering menjadi “lantai” karena minat beli muncul di sana. Jika penembusan terjadi secara meyakinkan, pergerakan bisa mengarah ke area 1,1850 dalam beberapa pekan. Karena itu, trader disarankan menyusun posisi dengan mempertimbangkan potensi kenaikan volatilitas.