This website is for a different region.

The content here might not be relevant fo you.
Would you like to visit the North America website?

Harga emas di UEA stabil karena spekulasi pemangkasan suku bunga The Fed dan pembelian bank sentral menopang prospek

by VT Markets
/
May 18, 2026

Harga emas di Uni Emirat Arab (UEA) pada Senin cenderung tidak berubah, berdasarkan data FXStreet. Emas dihargai AED 536,35 per gram, dibandingkan AED 536,14 pada Jumat.

Emas juga tercatat AED 6.255,88 per tola, naik dari AED 6.253,40 pada Jumat. Harga lainnya: AED 5.363,41 untuk 10 gram dan AED 16.683,39 per troy ounce (ons troy, satuan berat khusus logam mulia).

Metodologi Harga Emas UEA

FXStreet menghitung harga emas UEA dengan mengonversi harga internasional menggunakan kurs USD/AED, lalu menyesuaikannya ke satuan ukuran lokal. Harga diperbarui setiap hari memakai kurs pasar pada saat publikasi, dan disajikan sebagai acuan karena harga di pasar lokal bisa berbeda.

Secara historis, emas digunakan sebagai penyimpan nilai (aset yang nilainya relatif bertahan) dan alat tukar. Emas juga banyak dipakai untuk perhiasan. Selain itu, emas sering dipandang sebagai aset safe haven (aset “pelindung” yang biasanya dicari saat pasar bergejolak) dan lindung nilai terhadap inflasi (kenaikan harga umum) serta pelemahan mata uang.

Bank sentral adalah pemegang emas terbesar dan dapat membelinya untuk diversifikasi cadangan (menyebar aset agar risiko tidak terkonsentrasi). Menurut World Gold Council, pada 2022 bank sentral menambah 1.136 ton senilai sekitar US$70 miliar, jumlah tahunan tertinggi sejak pencatatan dimulai.

Harga emas sering bergerak berlawanan arah dengan Dolar AS dan obligasi pemerintah AS (US Treasuries, surat utang pemerintah AS). Emas juga bisa bergerak berlawanan dengan aset berisiko seperti saham. Harga emas dipengaruhi geopolitik, kekhawatiran resesi (perlambatan ekonomi luas), suku bunga, dan perubahan Dolar AS, karena emas diperdagangkan dalam dolar (XAU/USD, pasangan harga emas terhadap dolar).

Prospek Pasar Emas

Dengan stabilnya emas di sekitar AED 536 per gram, ini terlihat sebagai fase konsolidasi (bergerak dalam kisaran sempit) sebelum potensi kenaikan. Stabilitas ini bisa menutupi tekanan di pasar yang dapat menguntungkan emas. Pelaku pasar derivatif (produk turunan seperti opsi dan kontrak berjangka) dapat melihat rendahnya volatilitas (besar-kecilnya naik-turun harga) sebagai peluang untuk bersiap menghadapi pergerakan berikutnya.

Pendorong utama emas adalah perubahan sikap bank sentral AS, Federal Reserve (The Fed). Setelah menahan suku bunga di level tinggi sepanjang sebagian besar 2025, data terbaru yang menunjukkan pertumbuhan melambat meningkatkan ekspektasi pelonggaran kebijakan (penurunan suku bunga) pada tahun ini. Pasar dinilai mulai memperhitungkan setidaknya dua kali penurunan suku bunga sebelum akhir 2026, yang biasanya mendukung aset tanpa imbal hasil seperti emas (emas tidak memberi bunga/kupon).

Perubahan yang lebih “dovish” (lebih condong melonggarkan kebijakan) juga menekan Dolar AS. Indeks Dolar (DXY, ukuran kekuatan dolar terhadap sekeranjang mata uang utama) sudah melemah, turun hampir 3% dalam kuartal terakhir dari puncak 2025. Korelasi terbalik terlihat jelas; reli emas pada akhir 2025 bertepatan dengan melemahnya dolar, dan tren ini diperkirakan berlanjut.

Prospek ini juga didukung permintaan bank sentral. Setelah pembelian besar pada 2024 dan 2025, laporan World Gold Council kuartal I 2026 menyebut bank sentral—dipimpin China dan India—menambah 260 ton ke cadangan mereka. Pembelian institusional ini menjadi penopang (menciptakan “lantai” harga) dan menahan risiko penurunan tajam.

Selain itu, investor masih mewaspadai inflasi, yang sulit dikendalikan pada 2024 saat berada di atas 3,5%. Ketegangan geopolitik yang belum mereda di sejumlah wilayah juga menjaga daya tarik emas sebagai aset safe haven. Dua faktor ini terus menjadi penopang harga emas.

Karena itu, terbuka alasan untuk membangun posisi beli (long, strategi mendapat untung saat harga naik) pada derivatif emas. Membeli opsi call (hak membeli pada harga tertentu) dengan jatuh tempo tiga hingga enam bulan dapat memberi potensi keuntungan jika siklus penurunan suku bunga The Fed terjadi. Strategi ini memberi peluang ikut menikmati kenaikan harga sambil membatasi risiko awal pada premi opsi (biaya membeli opsi).

Pelaku pasar tetap perlu waspada terhadap pernyataan bank sentral yang lebih “hawkish” (lebih condong mengetatkan kebijakan), yang bisa menekan harga dalam jangka pendek. Memanfaatkan pelemahan seperti ini untuk masuk posisi bisa jadi langkah yang lebih aman. Memantau rilis data inflasi dan data tenaga kerja AS akan penting dalam beberapa pekan ke depan.

see more

Back To Top
server

Hai 👋

Bagaimana saya boleh membantu?

Segera berbual dengan pasukan kami

Chat Langsung

Mulakan perbualan secara langsung melalui...

  • Telegram
    hold Ditangguh
  • Akan datang...

Hai 👋

Bagaimana saya boleh membantu?

telegram

Imbas kod QR dengan telefon pintar anda untuk mula berbual dengan kami, atau klik di sini.

Tidak ada aplikasi Telegram atau versi Desktop terpasang? Gunakan Web Telegram sebaliknya.

QR code