Dolar Australia melemah terhadap Dolar AS pada Selasa, diperdagangkan beberapa *pip* (satuan perubahan harga yang sangat kecil di pasar valas) di atas level terendah satu bulan di sekitar 0,7100. Turunnya harapan tercapainya akhir perang Iran lewat negosiasi, ditambah harga minyak di atas US$100, menekan minat terhadap aset berisiko dan membebani AUD.
Media Iran melaporkan ledakan di Pulau Qeshm, memperburuk sentimen pasar. Presiden AS Donald Trump mengatakan pada Senin bahwa pembicaraan serius dengan Teheran sedang berlangsung, meski masih ada perbedaan terkait pengayaan uranium Iran (proses meningkatkan kadar uranium, yang dapat digunakan untuk energi maupun potensi senjata).
Minyak dan Geopolitik Menekan Minat Risiko
Kementerian Luar Negeri Qatar mengatakan tidak ada pengaturan untuk ekspor produk energi dan lalu lintas melalui Selat Hormuz turun drastis dibandingkan rata-rata sebelum perang. Kenaikan harga minyak meningkatkan kekhawatiran bagi Australia sebagai pengimpor minyak mentah.
Risalah rapat Reserve Bank of Australia (RBA) bulan Mei mengarah pada jeda setelah tiga kali kenaikan suku bunga beruntun, dengan suku bunga acuan (*cash rate*, suku bunga rujukan utama RBA) di 4,35%. Anggota menyebut keputusan itu memberi waktu untuk memantau perkembangan perang di Timur Tengah, dan AUD melemah setelah risalah dirilis.
RBA menggelar 11 rapat kebijakan per tahun dan menargetkan inflasi 2–3%. RBA juga dapat memakai *quantitative easing* (pelonggaran moneter dengan membeli obligasi untuk menambah uang beredar; biasanya melemahkan mata uang) dan *quantitative tightening* (pengetatan dengan mengurangi pembelian/menjual obligasi agar uang beredar menyusut; biasanya mendukung mata uang).