Harga Minyak Mentah turun dari puncak terbaru pada Rabu, tetapi masih bertahan di atas US$100. West Texas Intermediate (WTI) tetap di atas US$102,00 karena ketegangan antara AS dan Iran meningkat.
Presiden AS Donald Trump mengatakan pada Selasa bahwa AS bisa menyerang Iran dalam dua atau tiga hari ke depan jika Teheran tidak menandatangani kesepakatan damai. Wakil Presiden JD Vance mengatakan AS “siap sepenuhnya” untuk melanjutkan aksi militer, sementara Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi memperingatkan akan ada “kejutan” jika AS memulai operasi lagi.
Risiko Pasokan di Pasar Minyak
Blokade Selat Hormuz memasuki bulan ketiga, tanpa rencana pembukaan kembali. Ini membatasi pasokan global minyak dan komoditas lain, termasuk gas dan pupuk.
Laporan Association of Petroleum Industries pada Selasa menunjukkan persediaan (stok) minyak AS turun 9,1 juta barel pada pekan yang berakhir 15 Mei. Ini dibandingkan dengan perkiraan penurunan 3,4 juta barel, setelah pekan sebelumnya turun 2,18 juta barel.
Data ini mendukung harga menjelang laporan Perubahan Persediaan Minyak Mentah dari US Energy Information Administration (EIA)—lembaga resmi statistik energi AS—yang dijadwalkan rilis pada Rabu.
Kami mengingat ketegangan pasar yang ekstrem pada periode yang sama tahun lalu, ketika blokade Selat Hormuz dan ancaman konflik mendorong WTI menembus US$100 per barel. Penurunan besar persediaan minyak AS selama Mei 2025, seperti turunnya 9,1 juta barel yang dilaporkan pada pertengahan bulan, semakin memperkuat kenaikan harga. Namun kini situasi geopolitik berubah, sehingga kondisi transaksi (trading) juga berbeda.
Prospek Strategi Trading
Pembukaan kembali Selat Hormuz pada akhir tahun lalu meredakan kendala pasokan terberat. OPEC+—kelompok OPEC dan negara mitra—menanggapi normalnya jalur pengiriman dengan menyepakati kenaikan produksi terbatas 400.000 barel per hari mulai Juli untuk memenuhi permintaan global yang pulih, tetapi masih rapuh. Ini berbanding terbalik dengan guncangan pasokan yang mewarnai pasar pada 2025.
Laporan EIA pekan lalu menunjukkan persediaan minyak mentah AS justru naik (build) 2,5 juta barel, padahal pasar memperkirakan penurunan kecil (draw). Ini mengindikasikan produksi kini lebih cepat daripada pemulihan ekonomi yang lebih lambat dari harapan, dengan data PMI manufaktur China—indeks survei aktivitas pabrik—untuk April 2026 di level 50,1 yang lemah. Pasar kini lebih khawatir pada lemahnya permintaan dibanding kelangkaan pasokan seperti tahun lalu.
Seiring meredanya premi risiko geopolitik—tambahan harga karena kekhawatiran konflik—volatilitas tersirat (implied volatility), yaitu perkiraan gejolak harga yang tercermin dalam harga opsi, pada opsi minyak mentah turun dari level tinggi saat krisis Hormuz 2025. Ini dapat menjadi peluang bagi trader untuk mempertimbangkan menjual opsi call out-of-the-money (opsi beli dengan harga patokan/strike di atas harga saat ini, sehingga lebih kecil peluang untung) atau memakai bear call spread (strategi opsi untuk mendapat premi dengan asumsi harga sulit naik jauh). Strategi ini bisa memberi pendapatan (premi) dengan pandangan harga akan tertahan, dengan hambatan kuat (resistance) WTI kini dekat US$90 per barel.