CPI utama (headline, angka inflasi paling umum) Inggris naik 2,8% secara tahunan (year on year/yoy) pada April, turun dari 3,3% pada Maret, dan di bawah perkiraan 3,0%. Inflasi masih di atas target Bank of England (BoE) sebesar 2%.
CPI inti (core, inflasi yang mengecualikan harga makanan dan energi yang biasanya sangat bergejolak) naik 2,5% yoy, turun dari 3,1% pada Maret dan di bawah perkiraan 2,6%. CPI bulanan (month on month/mom, dibanding bulan sebelumnya) sebesar 0,7% pada April, tidak berubah dari Maret dan di bawah konsensus 0,9%.
Reaksi Pasar dan Fokus Kebijakan
Setelah rilis data, GBP/USD turun 0,10% ke 1,3381. Angka ini dapat memengaruhi ekspektasi pasar terhadap keputusan BoE pada Juni.
Pratinjau sebelumnya memperkirakan CPI tahunan melambat ke 3,0% pada April, dengan CPI bulanan 0,9%. CPI inti diperkirakan 2,6%, dan harga produsen diproyeksikan 1% untuk PPI input (biaya bahan baku dan komponen yang dibayar produsen; dari 4,4%) serta 1% untuk PPI output (harga barang saat keluar dari pabrik; dari 0,9%).
BoE memperkirakan inflasi konsumen akan mencapai puncak 4% pada akhir tahun ini. Ofgem (regulator energi Inggris) dijadwalkan meninjau ulang batas tarif energi (energy price cap, batas maksimum tarif energi rumah tangga) pada Juli, yang dapat memengaruhi CPI utama.
Data inflasi terbaru menunjukkan gambaran yang beragam. CPI utama turun ke 2,8%, membaik, tetapi masih jauh di atas target BoE 2%. CPI inti yang lebih rendah di 2,5% mengindikasikan sebagian tekanan harga di luar faktor makanan dan energi mulai mereda, sehingga arah kebijakan berikutnya masih belum jelas.
Prospek Sterling dan Strategi Volatilitas
Bagi kami, ini memperkuat pandangan bahwa BoE kemungkinan menahan suku bunga dalam beberapa pekan ke depan. Dengan suku bunga acuan (base rate, suku bunga rujukan utama BoE) masih 5,25% sejak Agustus 2023 dan inflasi jasa masih “lengket” di sekitar 5,9% (sulit turun), data CPI ini belum cukup lemah untuk memicu pemangkasan suku bunga segera. Karena itu, tidak tepat berspekulasi pada perubahan kebijakan yang lebih “dovish” (condong melonggarkan kebijakan, misalnya pemangkasan suku bunga) dalam waktu dekat.
Kondisi ini mengarah pada Sterling yang cenderung bergerak dalam rentang (range-bound, naik-turun di kisaran tertentu). Turunnya GBP/USD ke 1,3381 setelah berita menunjukkan pasar belum melihat alasan kuat untuk penguatan besar Sterling. Strategi opsi (opsi, kontrak derivatif yang memberi hak untuk membeli/menjual pada harga tertentu) seperti straddle (membeli opsi beli dan opsi jual pada harga dan jatuh tempo yang sama untuk memanfaatkan pergerakan besar ke arah mana pun) dapat digunakan untuk kondisi pergerakan menyamping, sambil tetap siap jika terjadi penembusan (breakout, keluar dari kisaran).
Ke depan, perlu mewaspadai pemicu volatilitas (volatility, besarnya naik-turun harga) seperti revisi batas tarif energi Ofgem pada Juli. Data terbaru juga menunjukkan pengangguran naik ke 4,3%, tetapi pertumbuhan upah masih kuat, sehingga prospek inflasi untuk BoE makin rumit. Ketegangan antara inflasi utama yang melambat dan tekanan harga domestik yang masih tinggi berpotensi memicu pergerakan pasar yang tajam pada pertengahan hingga akhir musim panas.
Kita bisa melihat kemiripan dengan 2023, saat pasar terus mengubah perkiraan puncak suku bunga berdasarkan setiap data baru. Kini, ketidakpastian bergeser ke waktu pemangkasan suku bunga pertama, sehingga kontrak derivatif (instrumen turunan, nilainya mengikuti aset/acuan seperti suku bunga) yang terkait tanggal rapat BoE menjadi lebih aktif. Menyiapkan strategi untuk volatilitas yang meningkat di sekitar momen-momen kunci tersebut tampak paling masuk akal.