This website is for a different region.

The content here might not be relevant fo you.
Would you like to visit the North America website?

RBA Peringatkan Risiko Ekspektasi Inflasi saat Guncangan Harga Minyak Mendorong Tekanan dan Memperumit Prospek AUD/USD

by VT Markets
/
May 19, 2026

Bank Sentral Australia (Reserve Bank of Australia/RBA) melihat risiko tinggi bahwa *ekspektasi inflasi* (perkiraan masyarakat dan pelaku usaha soal inflasi di masa depan) bisa naik, yang dapat memaksa perlambatan ekonomi lebih dalam. Guncangan harga minyak diperkirakan menambah tekanan inflasi dalam satu tahun ke depan, sehingga memengaruhi latar pergerakan AUD/USD (nilai tukar dolar Australia terhadap dolar AS).

Kenaikan harga minyak diproyeksikan menyumbang sekitar 0,4 poin persentase terhadap *inflasi inti* (underlying inflation, yaitu inflasi yang mengabaikan komponen yang sangat bergejolak seperti energi dan pangan, agar tren harga lebih jelas) pada kuartal hingga Maret 2027. Setelah itu, inflasi inti diperkirakan mereda dan *inflasi utama* (headline inflation, total inflasi) turun, seiring proyeksi penurunan harga minyak dan biaya perjalanan.

Ekspektasi Inflasi Jadi Sorotan

RBA berupaya menjaga ekspektasi inflasi tetap dekat titik tengah target 2–3%. Harga bahan bakar yang lebih tinggi akibat konflik Iran mendorong biaya perjalanan, transportasi, layanan pos, kebutuhan pokok, dan konstruksi.

RBA telah menaikkan suku bunga tiga kali tahun ini menjadi 4,35%. RBA memantau seberapa cepat perusahaan meneruskan kenaikan biaya kepada konsumen (*pass-through*, yaitu pemindahan kenaikan biaya input menjadi kenaikan harga jual). Jika pass-through meluas, ekspektasi inflasi bisa terdorong naik.

Notulen rapat terakhir mengisyaratkan kemungkinan jeda setelah tiga kali kenaikan beruntun. RBA menyatakan kondisi keuangan kemungkinan akan cukup ketat (*restrictive*, artinya suku bunga dan pembiayaan menahan konsumsi serta investasi) dan memberi waktu bagi dewan untuk menilai dampak konflik Timur Tengah dan respons di dalam negeri.

Proyeksi dasar mengasumsikan kenaikan *cash rate* (suku bunga acuan RBA) 60bp pada 2026 — bp (basis poin) adalah 0,01%, sehingga 60bp berarti 0,60% — serta penurunan harga minyak secara bertahap. Pertumbuhan negara mitra dagang diasumsikan stabil, ditopang investasi AI (kecerdasan buatan).

Implikasi untuk Audusd

RBA memberi sinyal risiko ekspektasi inflasi “lepas kendali” tinggi, sehingga mungkin diperlukan perlambatan ekonomi yang lebih besar untuk menekannya. Tiga kali kenaikan suku bunga pada 2026 membawa cash rate ke 4,35% untuk menahan tekanan ini. Data terbaru Biro Statistik Australia menunjukkan inflasi CPI kuartalan (Indeks Harga Konsumen, ukuran kenaikan harga barang dan jasa yang dibayar rumah tangga) bertahan di 4,1%, menguatkan sikap ketat (hawkish, artinya cenderung menaikkan suku bunga demi menekan inflasi) RBA.

Pendorong utama inflasi adalah guncangan harga minyak, yang diperkirakan menambah 0,4 poin persentase pada inflasi inti dalam setahun ke depan. Kontrak berjangka (futures, perjanjian jual-beli untuk harga di masa depan) minyak Brent kini di sekitar US$95 per barel, dan biaya ini masuk ke berbagai pos dari transportasi hingga kebutuhan pokok. Pasar memantau seberapa cepat pelaku usaha meneruskan kenaikan biaya ini ke konsumen.

Meski pernyataannya tegas, notulen rapat terakhir RBA mengarah pada peluang jeda setelah rangkaian kenaikan suku bunga. Ini membuat pelaku pasar derivatif (instrumen turunan seperti futures dan opsi) semakin bergantung pada data (*data-dependent*, keputusan mengikuti rilis data). Karena itu, data ketenagakerjaan dan inflasi berikutnya menjadi kunci untuk keputusan suku bunga. Data tenaga kerja terakhir menunjukkan tingkat pengangguran naik ke 4,0%, yang dapat menjadi alasan RBA menahan suku bunga.

Ketidakpastian ini meningkatkan perkiraan volatilitas (besar-kecilnya fluktuasi harga) dolar Australia. Untuk pelaku pasar, kondisi antara RBA yang ketat dan ekonomi yang melambat membuat opsi (options, instrumen yang memberi hak—bukan kewajiban—untuk membeli/menjual pada harga tertentu) relevan untuk membatasi risiko. Membeli opsi *put* AUD/USD (hak menjual, biasanya digunakan saat memperkirakan harga turun) bisa menjadi cara mengambil posisi jika kekhawatiran perlambatan global atau pelemahan domestik lebih dominan daripada fokus inflasi RBA. Sebaliknya, opsi *call* (hak membeli, biasanya digunakan saat memperkirakan harga naik) memberi peluang jika data inflasi ternyata jauh lebih tinggi, sehingga RBA kembali menaikkan suku bunga.

see more

Back To Top
server

Hai 👋

Bagaimana saya boleh membantu?

Segera berbual dengan pasukan kami

Chat Langsung

Mulakan perbualan secara langsung melalui...

  • Telegram
    hold Ditangguh
  • Akan datang...

Hai 👋

Bagaimana saya boleh membantu?

telegram

Imbas kod QR dengan telefon pintar anda untuk mula berbual dengan kami, atau klik di sini.

Tidak ada aplikasi Telegram atau versi Desktop terpasang? Gunakan Web Telegram sebaliknya.

QR code