Harga emas di Arab Saudi secara umum tidak banyak berubah pada Senin, berdasarkan data FXStreet. Emas dipatok di SAR 547,27 per gram, dibandingkan SAR 547,75 pada Jumat.
Emas juga dikutip di SAR 6.383,12 per tola, turun dari SAR 6.388,83 pada Jumat. Daftar harga mencakup SAR 5.472,70 untuk 10 gram dan SAR 17.021,93 per troy ounce (ons troy, satuan berat khusus untuk logam mulia).
FXStreet menghitung harga di Arab Saudi dengan mengonversi harga emas internasional menggunakan kurs USD/SAR dan satuan lokal. Harga diperbarui setiap hari pada saat publikasi dan hanya sebagai acuan, karena harga di pasar lokal bisa sedikit berbeda.
Bank sentral adalah pemegang emas terbesar. Data World Gold Council menunjukkan bank sentral menambah 1.136 ton, senilai sekitar US$70 miliar, ke cadangan pada 2022, pembelian tahunan tertinggi dalam sejarah.
Emas sering bergerak berlawanan arah dengan Dolar AS dan Surat Utang Pemerintah AS (US Treasuries, obligasi pemerintah AS), dan juga bisa bergerak berlawanan dengan aset berisiko seperti saham. Pendorong harga antara lain peristiwa geopolitik, kekhawatiran resesi, suku bunga, dan perubahan nilai Dolar AS, karena emas dihargai dalam dolar (XAU/USD, harga emas terhadap dolar AS).
Harga emas saat ini cenderung stabil, sebuah fase yang relatif tenang setelah reli kuat sepanjang sebagian besar 2025. Stabilitas di level tinggi ini menjadi titik keputusan penting: apakah ini jeda sebelum naik lagi atau puncak sebelum koreksi (penurunan untuk menyesuaikan harga).
Dasar harga ini ditopang pembelian agresif bank sentral, dan tren tersebut belum melambat. Dalam 2025, bank sentral menambah lebih dari 1.000 ton ke cadangan, sejalan dengan laju pembelian yang memecahkan rekor pada tahun-tahun sebelumnya. Permintaan yang konsisten, terutama dari negara berkembang, menjadi penopang kuat bagi pasar.
Pemangkasan suku bunga The Federal Reserve (bank sentral AS) pada 2025 juga mendorong reli karena menurunkan “biaya peluang” memegang emas (keuntungan yang hilang karena memilih emas dibanding instrumen berbunga). Kebijakan itu menekan Indeks Dolar AS (US Dollar Index/DXY, ukuran kekuatan dolar terhadap sekeranjang mata uang utama) di bawah level 98, membuat emas lebih murah bagi pembeli luar negeri dan meningkatkan daya tariknya. Sinyal bahwa kebijakan bank sentral bisa kembali ketat (misalnya suku bunga naik lagi) perlu dipandang sebagai risiko utama dalam beberapa pekan ke depan.
Saat pasar bergerak mendatar, volatilitas tersirat (implied volatility, perkiraan besarnya naik-turun harga yang “tercermin” dalam harga opsi) turun tajam. Indeks Volatilitas Emas CBOE (GVZ, indeks yang mengukur volatilitas tersirat opsi emas) kini berada dekat level terendah enam bulan di 14, jauh di bawah level di atas 20 saat kenaikan tahun lalu. Ini membuat strategi opsi seperti long straddle (membeli opsi beli dan opsi jual sekaligus pada harga dan jatuh tempo yang sama untuk bertaruh pada pergerakan besar ke salah satu arah) relatif lebih murah bagi trader yang mengantisipasi harga keluar dari kisaran sempit.
Risiko geopolitik yang bertahan sepanjang 2025 terus menopang nilai emas sebagai aset “safe haven” (aset lindung nilai yang dicari saat pasar bergejolak). Jika ketegangan global tiba-tiba mereda, aksi jual bisa terjadi cepat karena trader melakukan ambil untung (taking profit, menjual untuk mengunci keuntungan). Karena itu, dinamika geopolitik perlu dipantau ketat karena kemungkinan menjadi pemicu pergerakan harga besar berikutnya.