This website is for a different region.

The content here might not be relevant fo you.
Would you like to visit the North America website?

PBOC Tetapkan Fixing USD/CNY Lebih Lemah, Perkuat Ekspektasi Depresiasi Yuan Lebih Lanjut

by VT Markets
/
May 18, 2026

Pada Senin, People’s Bank of China (PBOC/bank sentral China) menetapkan kurs tengah USD/CNY di 6,8435. Angka ini dibandingkan dengan penetapan Jumat di 6,8415 dan perkiraan Reuters 6,8086.

Target utama kebijakan moneter PBOC adalah stabilitas harga, termasuk stabilitas nilai tukar, serta pertumbuhan ekonomi. PBOC juga mendukung reformasi keuangan, seperti membuka akses dan mengembangkan pasar keuangan.

PBOC dimiliki negara oleh Republik Rakyat China dan tidak sepenuhnya independen. Sekretaris Komite Partai Komunis China, yang dicalonkan oleh Ketua Dewan Negara, punya pengaruh besar. Pan Gongsheng memegang posisi ini sekaligus sebagai gubernur bank sentral.

Instrumen kebijakan mencakup Reverse Repo Rate tujuh hari (suku bunga untuk operasi penyerapan/penyuntikan likuiditas jangka sangat pendek lewat transaksi repo terbalik), Medium-term Lending Facility/MLF (fasilitas pinjaman bank sentral ke bank untuk jangka menengah), intervensi valuta asing (aksi bank sentral di pasar untuk memengaruhi kurs), dan Reserve Requirement Ratio/RRR (rasio kewajiban giro wajib minimum, yaitu porsi dana yang harus disimpan bank di bank sentral). Loan Prime Rate/LPR adalah suku bunga acuan pinjaman yang memengaruhi suku bunga kredit, KPR, dan simpanan, serta nilai tukar renminbi/yuan.

China memiliki 19 bank swasta, yang porsinya kecil dalam sistem keuangan. Yang terbesar adalah pemberi pinjaman digital WeBank dan MYbank. Modal swasta diizinkan mendanai penuh bank domestik sejak 2014.

Kurs tengah USD/CNY yang baru dipatok di 6,8435 jauh lebih lemah dari perkiraan pasar. Ini menjadi sinyal bahwa pejabat nyaman dengan, atau bahkan mengarahkan, pelemahan yuan untuk menopang ekonomi. Ini dapat dibaca sebagai dukungan resmi terhadap pelemahan lanjutan dalam beberapa pekan ke depan.

Arah kebijakan ini selaras dengan data ekonomi terbaru. Pertumbuhan PDB (produk domestik bruto) kuartal I 2026 China sedikit di bawah target, 4,8%. Inflasi April menunjukkan harga konsumen hanya naik 0,5% secara tahunan (year-on-year/yoy, yaitu dibanding periode yang sama tahun lalu). Dengan harga produsen masih mengalami deflasi (penurunan tingkat harga), bank sentral punya alasan dan ruang untuk membiarkan mata uang melemah agar ekspor lebih kompetitif.

Di saat yang sama, dolar AS tetap kuat karena Federal Reserve mempertahankan suku bunga tinggi. Imbal hasil (yield) US Treasury 10 tahun sekitar 4,2%, jauh di atas imbal hasil obligasi pemerintah China sekitar 2,5%. Selisih suku bunga yang lebar ini mendorong arus modal keluar dari China menuju aset berdenominasi dolar.

Jika melihat ke belakang, situasi ini mirip pola sepanjang 2025. Yuan perlahan melemah terhadap dolar karena otoritas lebih memprioritaskan target pertumbuhan dibanding mempertahankan kurs yang kuat. Langkah saat ini terlihat sebagai kelanjutan strategi tersebut.

Bagi pelaku pasar, kondisi ini mengarah pada asumsi USD/CNY berpotensi naik dalam beberapa pekan ke depan. Strategi seperti membeli opsi call USD terhadap CNH (yuan lepas pantai/offshore, yaitu yuan yang diperdagangkan di luar daratan China) atau mengambil posisi long pada kontrak forward USD/CNY (kontrak lindung nilai/kesepakatan kurs untuk transaksi di masa depan) bisa menarik. Fluktuasi kurs yang lebih besar berpeluang terjadi, sehingga strategi yang diuntungkan saat volatilitas (tingkat naik-turun harga) meningkat juga dapat efektif.

see more

Back To Top
server

Hai 👋

Bagaimana saya boleh membantu?

Segera berbual dengan pasukan kami

Chat Langsung

Mulakan perbualan secara langsung melalui...

  • Telegram
    hold Ditangguh
  • Akan datang...

Hai 👋

Bagaimana saya boleh membantu?

telegram

Imbas kod QR dengan telefon pintar anda untuk mula berbual dengan kami, atau klik di sini.

Tidak ada aplikasi Telegram atau versi Desktop terpasang? Gunakan Web Telegram sebaliknya.

QR code