USD/CHF naik untuk hari kelima, diperdagangkan dekat 0,7850 pada perdagangan Asia pada Jumat. Kenaikan ini mengikuti penguatan Dolar AS setelah rilis data Penjualan Ritel AS.
Penjualan Ritel AS naik 0,5% dibanding bulan sebelumnya (month-on-month/m/m—perubahan dibanding bulan sebelumnya) pada April, sesuai perkiraan dan melambat dari 1,6% pada Maret. Penjualan naik 4,9% dibanding setahun sebelumnya (year-on-year/y/y—perubahan dibanding periode yang sama tahun lalu), di atas perkiraan 3,3%.
Dolar AS juga menguat setelah perubahan dalam kepemimpinan Federal Reserve (The Fed—bank sentral AS). Stephen Miran mengundurkan diri dari Dewan Gubernur, membuka jalan bagi Kevin Warsh untuk mengambil alih sebagai Ketua The Fed.
Inflasi yang terkait dengan ketegangan Timur Tengah mendukung ekspektasi bahwa The Fed akan mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama, atau menaikkannya lagi. Presiden AS Donald Trump mengatakan pada Kamis bahwa Presiden China Xi menawarkan bantuan untuk meredakan konflik Iran.
Di Swiss, harga produsen dan harga impor turun 2,0% (y/y) pada April, memperpanjang periode deflasi (deflasi—penurunan harga secara umum). Ini mengurangi alasan untuk menaikkan suku bunga dan bisa membuat suku bunga kebijakan SNB (Swiss National Bank—bank sentral Swiss) bertahan di 0%, atau mendorong langkah di pasar valuta asing (FX/foreign exchange—pasar pertukaran mata uang) untuk membatasi penguatan Franc.
Sentimen konsumen Swiss membaik ke -40 dibanding perkiraan -46. Perhatian tertuju pada apakah SNB menganggap deflasi sebagai pemicu untuk intervensi mata uang (intervensi—aksi bank sentral membeli/menjual mata uang untuk memengaruhi kurs) yang lebih kuat.
Cerita utama USD/CHF tetap pada makin lebarnya perbedaan kebijakan moneter (kebijakan moneter—kebijakan suku bunga dan likuiditas bank sentral) AS dan Swiss. Kami melihat ekonomi AS tetap kuat, dengan pertumbuhan penjualan ritel 4,9% (y/y) pada April menunjukkan konsumen masih belanja meski suku bunga tinggi. Kesenjangan kebijakan ini membuat memegang Dolar AS lebih menarik dibanding Franc Swiss, sehingga membuka peluang tren naik berlanjut dalam beberapa minggu ke depan.
Inflasi tetap menjadi pendorong utama, dan data terbaru Indeks Harga Konsumen AS (CPI/Consumer Price Index—ukuran inflasi harga barang dan jasa) April menunjukkan kenaikan tahunan 3,4% yang masih sulit turun, memperkuat sikap The Fed “lebih tinggi lebih lama” (higher for longer—suku bunga tinggi dipertahankan lebih lama). Dengan Kevin Warsh kini memimpin The Fed, pasar mulai memperhitungkan pendekatan yang lebih agresif untuk menekan inflasi, yang dapat menopang dolar. Namun, laporan ketenagakerjaan terbaru menunjukkan pelambatan, dengan hanya 175.000 pekerjaan bertambah, yang bisa membatasi ekspektasi kenaikan suku bunga paling agresif.
Di Swiss, penurunan 2,0% (y/y) pada harga produsen menjadi perhatian serius bagi SNB, sehingga tekanan cenderung ke kebijakan yang lebih longgar (dovish—lebih condong menahan/menurunkan suku bunga). Meski inflasi konsumen masih positif 1,4%, angka ini jauh di bawah sasaran SNB dan kecil kemungkinan menghentikan pertimbangan intervensi untuk melemahkan franc. Dari cadangan devisa (foreign currency reserves—aset valuta asing yang dimiliki bank sentral), posisinya relatif stabil beberapa bulan terakhir, memberi sinyal SNB bersabar, tetapi bisa bertindak jika franc menguat tajam.
Ketegangan geopolitik di Timur Tengah menambah ketidakpastian, yang biasanya menguntungkan franc sebagai mata uang “safe haven” (safe haven—aset yang cenderung dicari saat pasar gelisah). Namun, “imbal hasil” dolar yang lebih tinggi (yield—keuntungan dari memegang aset, umumnya karena suku bunga) saat ini lebih menarik arus modal. Komentar Trump soal bantuan China dalam konflik Iran sedikit meredakan kekhawatiran jangka pendek. Ini berarti dorongan “lari ke aset aman” bisa singkat, dan pelaku pasar kembali fokus pada keunggulan suku bunga dolar.
Bagi trader derivatif (derivatif—kontrak yang nilainya mengikuti aset acuan seperti kurs), kondisi ini mendukung strategi yang diuntungkan dari kenaikan USD/CHF, seperti membeli opsi call (opsi call—hak membeli pada harga tertentu) atau memakai bull call spread (bull call spread—membeli call dan menjual call lain untuk menekan biaya, dengan potensi untung terbatas). Volatilitas (volatility—besarnya naik-turun harga) diperkirakan meningkat, terutama menjelang tanggal rapat SNB, sehingga posisi yang diuntungkan dari naiknya volatilitas (long volatility—strategi yang untung saat pergerakan pasar membesar, misalnya membeli opsi) berpotensi menarik. Jangan lupa pelajaran 2015, saat SNB tiba-tiba melepas patokan nilai tukar (currency peg—batas/target kurs yang dipertahankan bank sentral), menunjukkan bank sentral dapat bertindak tegas dan memicu pergerakan pasar ekstrem tanpa peringatan.